MoneyTalk, Jakarta – Politikus senior PDI Perjuangan, Beathor Suryadi, melontarkan kritik tajam yang mengaitkan kebijakan ekonomi nasional dengan praktik politik di Indonesia. Dalam pernyataannya, Beathor menyoroti temuan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut mekanisme ekonomi saat ini “dicekik” oleh kebijakan fiskal dan moneter hingga menyebabkan dana Rp500 triliun menumpuk di Bank Indonesia sebagai potret macetnya sirkulasi keuangan negara.
Namun Beathor tidak berhenti pada isu ekonomi. Ia menilai fenomena tersebut memiliki kemiripan dengan kondisi politik yang kian stagnan akibat dominasi elite partai. “Jika ekonomi dicekik oleh kebijakan fiskal dan moneter, politik kita pun tercekik oleh perilaku partai politik yang membiarkan anggota DPR bisa menjabat lebih dari lima periode,” ujarnya, Jumat (12/9/2025).
Menurut Beathor, praktik mempertahankan kursi legislatif selama bertahun-tahun menciptakan “penumpukan harta dan kekuasaan” di lingkaran sempit elite politik. “Ini seperti dana Rp500 triliun yang menumpuk di Bank Indonesia, tidak bergerak. Sama halnya dengan anggota DPR yang menumpuk kekayaan tanpa regenerasi,” sindirnya.
Ia menilai, ketiadaan batas masa jabatan legislatif mempersempit ruang munculnya pemimpin baru sekaligus menggerus kepercayaan publik. “Ketika rakyat merasa tidak punya alternatif politik, partisipasi melemah, dan keputusasaan meningkat,” tambahnya.
Beathor menyoroti posisi LSM dan warga sipil yang semakin terdesak. Menurutnya, tanpa kanal aspirasi yang sehat, tekanan sosial dapat memuncak menjadi aksi massa. “Jika LSM dan masyarakat tidak punya saluran aspirasi, mereka tercekik. Maka bisa saja terjadi protes keras, demo besar-besaran, bahkan kerusuhan yang disertai penjarahan harta milik elite,” ucapnya, mengingatkan bahwa kondisi seperti itu kerap muncul dalam sejarah ketika ketimpangan sosial-ekonomi melebar.
Pernyataan Beathor ini muncul di tengah meningkatnya aksi demonstrasi di berbagai daerah, terutama dalam momentum peringatan Hari Kemerdekaan. Ia menegaskan bahwa pemerintah dan partai politik harus membaca tanda-tanda zaman sebelum gejolak sosial meletup.
Beathor mendorong adanya pembatasan masa jabatan anggota DPR dan pembenahan tata kelola partai. “Regenerasi politik bukan hanya soal kaderisasi, tapi juga soal etika kekuasaan. Tanpa itu, kita akan terus terjebak pada lingkaran setan: ekonomi macet, politik stagnan, rakyat menderita,” tegasnya.
Ia menutup pernyataan dengan “Salam Juang,” menandakan semangat perlawanan terhadap ketimpangan yang menurutnya semakin mencolok. “Kemerdekaan sejati hanya bisa dirasakan jika rakyat terbebas dari cekikan ekonomi dan politik,” pungkasnya.





