MoneyTalk, Jakarta – Tokoh muda Nahdlatul Ulama, Roy Murtadho atau yang akrab disapa Gus Murtadho, melontarkan kritik keras terhadap pengelolaan sumber daya alam di Indonesia yang dinilainya selama ini lebih menguntungkan konglomerat dibandingkan rakyat.
Menurut Gus Murtadho, kerusakan lingkungan dan ketimpangan ekonomi yang terjadi di berbagai daerah termasuk Aceh bukanlah proses alamiah, melainkan hasil dari praktik penjarahan yang dilegitimasi oleh negara.
“Alam Indonesia sudah terlalu lama dijarah oleh konglomerat dengan disponsori negara,” kata Gus Murtadho dalam pernyataannya di media sosial, Sabtu (20/12/2025).
Ia menilai jargon “NKRI harga mati” kerap digunakan secara tidak adil. Menurutnya, nasionalisme sering hanya dibebankan kepada rakyat, sementara sumber daya alam justru diserahkan kepada segelintir elite ekonomi.
“NKRI harga mati sesungguhnya hanya berarti nasionalisme untuk rakyat, tetapi tanah air untuk konglomerat,” ujarnya.
Lebih jauh, Gus Murtadho secara khusus menyinggung kondisi Aceh. Ia menyebut, dengan sejarah panjang konflik, eksploitasi sumber daya, dan janji kesejahteraan yang tak kunjung terpenuhi, warga Aceh memiliki alasan moral dan politik untuk kembali memikirkan hak menentukan nasib sendiri.
“Sudah waktunya, terutama warga Aceh, memikirkan kembali penentuan nasib sendiri. Ini bukan soal separatisme, tapi soal keadilan,” tegasnya.
Gus Murtadho menilai ketimpangan pusat dan daerah masih menjadi masalah struktural yang belum diselesaikan secara serius oleh pemerintah. Otonomi khusus, menurutnya, belum menjawab akar persoalan selama kontrol sumber daya strategis tetap berada di tangan oligarki.
Pernyataan ini diperkirakan akan memicu perdebatan publik, terutama terkait batas antara kritik terhadap negara, tuntutan keadilan ekonomi, dan isu sensitif mengenai keutuhan wilayah Indonesia.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah terkait pernyataan Gus Murtadho tersebut.





