MoneyTalk, Jakarta – Istilah Parcok dipublis lalu booming dan melekat, semiotika (majas) tersebut merupakan hak setiap WNI dan terlebih majas lahir dari sosok senioren partai bergambar banteng, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, sebagai representatif ketidaksukaan publik hasil amatanya sang tokoh sendiri atas fenomena gejala gejala krisis terhadap sepak dan dinamika terjang yang lumayan brutal dari oknum petinggi sebuah lembaga negara yang menurutnya hipokrit dan transparansi keberpihakan, yang mengerahkan personilnya aktif ekspansif dalam ranah ‘politik’ praktis sehingga kontraktif dan pastinya inkonstitusional, karena diluar domain TUPOKSI Parcok.
Sementara penulis antitesa terhadap sosok “Parjo” (semiotik) dan terhadap peristiwa masa lalu dalam hubungannya dengan fenomena ‘gerakan kemarin atau kekinian’ ternyata prediktif beberapa pengamat publik sinkron antitesa, bahwa beberapa peristiwa anarkis pada 25 Agustus 2025 hingga awal September 2025 dimaksud, tidak terlepas dari intrik-intrik sosok Parjo yang diduga publik memiliki ‘darah biru’ dari sosok individu yang gen nya tercatat ‘berdarah merah’, karena sumber gen Parjo terdata pernah eksis pada sebuah gerakan yang umum dikenal sebagai kelompok “bahaya laten”, dan nyata faktor karakteristik devide et impera dan hipokrit (pendusta) serta playing victim memang jelas melekat di kepribadian sosok Parjo.
Sehingga beradasarkan rangkuman dari berbagai komparasi melalui parameter kepribadian Parjo plus l gen (darah merah) dan dihubungkan dengan pola gerakan a quo kemarin pada akhir Agustus 2025 dan awal September 2025 dan juga terhadap historis sosiologis politik dengan pola gerakan politik Tempoe Doeloe (GESTAPOE), ada indikasi titik temu yang relatif tidak keliru, bahwa konklusif (analisis) terdapat indikasi konektif.
Dan pengamatan sesungguhnya merupakan perspektif objektif, sehingga analisis dan hasil analisa tidak tendensisus, karena berdasarkan komparasi politik terhadap faktor perilaku nyata dan faktor biologis (gen) PARJO versi eksistensi sejarah perilaku (non fiksi), sehingga sepertinya sulit terbantahkan oleh sosok individual (imajiner) “Parjo dan ‘Kloning Parjo’ maupun kolegial. Ada termasuk fenomena Gibran yang hadir bak pahlawan ditengah pusat kerusuhan aksi ojolian dan rekayasa figur ojolian”, ditambah dengan berbagai pola manufer dari peristiwa politik Agustus 2025 kemarin, sinyalemen juga datang berupa statemen tokoh kolega (Sosok Termul atau Budjokers) yang terdokumentasi narasi tuntutan keras namun subjektif (intuitif), berkesan mengada-ada, tidak logis karena khusus ditujukan kepada sosok sah kepala negara agar mundur dari kursi RI- 1 walau belum genap satu tahun memimpin.
Dan sejatinya kondisi keterpurukan bangsa dan negara ini diberbagai sektor adalah ‘residu’ yang berasal dari aktivitas (bad leadearship) tokoh Parjo (Bos Termul/Budjokers) dan telah fatal mengkontaminsasi pada sektor sektor vital, termasuk mendegradasi mentalitas (karakter) kepemimpinan. Maka idealnya tuntutan keras ‘mundur’ spesial ditujukan kepada petinggi Parcok yang tidak mampu mengendalikan bawahannya yang bertugas dilapangan sehingga menuai eksiden berupa korban nyawa, fisik dan penjarahan harta benda (chaotic).
Penutup artikel, “Parcok dan atau Kloningan Parjo merupakan sejarah politik kekuasaan (Tragedi Bangsa)”, kesemua indikasi negatif dimaksud berasal dari sejumlah temuan berdasarken ‘data empiris’ lalu mengerucut menyentuh dugaan basis pertahanan PARJO saling bahu membahu dengan oknum petinggi PARCOK dan “patut diduga” TOKOH PARJO (individual) dan (kolegial) adalah para simpatisan sebuah partai yang inkluding satu kesatuan politik hulu menuju “hilir” politis, dan nampak ‘mereka’ memaksakan ejakulasi dini politik atau dengan kalkmat lainnya ‘PARJO dan bobotoh prematur karena kebelet berkuasa”.
Akhirnya kisah Jokowi dan Prabowo “antara Parcok dan Parjo”
Penulis : Damai Hari Lubis,Advokat-Jurnalis, Anggota Dewan Penasihat DPP KAI dan Kabidhum HAM dan Ketua LPBH DPP. KWRI.





