MoneyTalk, Jakarta – Indonesia mengalami deflasi sejak bulan Mei hingga September 2024, di tengah kontraksi yang terjadi di sektor manufaktur selama tiga bulan berturut-turut dari Juli hingga September 2024. Situasi ini menjadi sinyal bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak berada dalam keadaan baik-baik saja. Deflasi dan kontraksi sektor manufaktur menunjukkan adanya tekanan pada struktur ekonomi Indonesia, yang memengaruhi daya beli masyarakat, terutama di kalangan kelas menengah. Telisa Falianty, Senior Advisor Bidang Ekonomi dan Kebijakan Danareksa Sekuritas, mengungkapkan pandangannya mengenai hal ini dalam dialog dengan Anneke Wijaya di program Power Lunch, CNBC Indonesia pada Selasa (01/09).
Deflasi yang terjadi di Indonesia menjadi salah satu tanda bahwa permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa mengalami penurunan. Meskipun rendahnya inflasi dapat dilihat sebagai hal positif, jika angka inflasi berada di bawah target—dalam hal ini, di bawah 2,5%—ini menunjukkan adanya kelemahan dalam daya beli masyarakat. Kelas menengah, yang selama ini menjadi tulang punggung konsumsi, kini mengalami tekanan yang signifikan, yang tercermin dari penurunan permintaan dan daya beli.
Telisa menjelaskan, “Tekanan sisi demand tercermin dari data deflasi dan tekanan sektor supply terlihat dari kontraksi PMI Manufaktur.”
Hal ini menciptakan gambaran bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi sulit untuk tumbuh di atas 5%, bahkan mempertahankan pertumbuhan di angka tersebut bisa menjadi tantangan.
Sektor manufaktur, sebagai salah satu penggerak utama ekonomi Indonesia, telah mengalami kontraksi selama tiga bulan berturut-turut. Penurunan ini menjadi indikasi bahwa tidak hanya permintaan yang melemah, tetapi juga kondisi supply di sektor industri. Kontraksi PMI (Purchasing Managers’ Index) menunjukkan bahwa aktivitas industri di Indonesia sedang tidak sehat. Ini berpotensi mengganggu lapangan kerja dan mempengaruhi pendapatan masyarakat, yang pada gilirannya dapat memperburuk daya beli.
Dengan mengamati data yang ada, Telisa menggarisbawahi bahwa untuk tahun 2024, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak bisa diharapkan untuk berada di kisaran 5,1% atau lebih.
“Kita harus realistis, dengan tren inflasi yang rendah dan kontraksi di sektor manufaktur, kita mungkin akan sulit untuk mencapai target tersebut,” jelasnya.
Beberapa pihak mengkhawatirkan bahwa kondisi ekonomi saat ini mirip dengan krisis yang terjadi pada tahun 1998. Namun, Telisa menegaskan bahwa situasi saat ini belum bisa disamakan dengan krisis tersebut. Krisis 1998 ditandai oleh tiga hal: krisis nilai tukar, krisis utang, dan krisis perbankan. Saat ini, meskipun terjadi perlambatan pertumbuhan, Indonesia tidak menghadapi krisis serupa.
“Perlambatan ekonomi bukanlah krisis. Kita tidak mengalami krisis nilai tukar, dan pertumbuhan kita masih positif meskipun tertekan,” ungkap Telisa.
Kelas menengah memang terkena dampak yang signifikan, namun secara agregat, ekonomi masih menunjukkan pertumbuhan.
Menghadapi situasi ini, kebijakan yang tepat dari pemerintah dan sektor swasta menjadi sangat penting. Telisa menyarankan agar pemerintah fokus pada stabilisasi ekonomi dengan kebijakan yang mendukung sektor manufaktur dan meningkatkan daya beli masyarakat.
Dalam hal ini, relaksasi suku bunga yang sudah mulai dilakukan diharapkan dapat membantu merangsang konsumsi. Namun, hal tersebut harus diimbangi dengan kebijakan struktural yang tepat.
“Korporasi masih bersikap wait and see sebelum berinvestasi lebih lanjut. Mereka menunggu kepastian dari kebijakan ekonomi yang akan datang,” jelasnya.
Ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan perlu merasakan kepastian agar mau melakukan investasi yang berisiko. Meskipun tantangan yang dihadapi cukup berat, Telisa masih menyimpan harapan bahwa Indonesia dapat bertahan di tengah tekanan ekonomi ini.
“Kita perlu fokus pada pengembangan kelas menengah dan memperkuat daya beli mereka,” tambahnya.
Dengan langkah-langkah yang tepat, terutama dalam pengelolaan kebijakan ekonomi, ada kemungkinan untuk memperbaiki kondisi yang ada.
Secara keseluruhan, kondisi ekonomi Indonesia menjelang akhir tahun 2024 menunjukkan adanya deflasi dan kontraksi sektor manufaktur yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Meskipun ada tekanan yang signifikan, dengan kebijakan yang tepat dan peningkatan daya beli masyarakat, Indonesia masih memiliki potensi untuk keluar dari tantangan ini. Dialog dan evaluasi terus-menerus dari para pemangku kepentingan akan menjadi kunci untuk mengatasi situasi ini dan mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan.(c@kra)





